|
|
Berita ilmiah versus berita public, tentang prediksi gempa
Beberapa hari setelah gempa besar maka wartawan sangat haus dengan berita tentang dampak terhadap gempa tersebut dan apa yang akan dilakukan beberapa hari kedepan. Hal ini sangat realistis berhubung kekawatiran akan dampak berikutnya sangat tinggi, sehingga berita yang realistis sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan masarakat yang sedang trauma. Sangat tidak realistis apabila berita yang beredar adalah kemungkinan kejadian beberapa tahun yang akan datang, bahkan ratusan tahun yang akan datang. Berita yang tidak realistis dalam skala waktu sangat berbahaya bagi masarakat yang sedang ketakutan, karena tidak membantu keselamatan bahkan menambah kesengsaraan dan merepotkan aparat dalam penanganan paska bencana. Kalau ungkapan tersebut di atas dapat dimaklumi, maka keselamatan masarakat yang sedang ketakutan untuk menghadapi dampak beberapa hari yang akan datang menjadi prioritas utama berita, sehingga berita tentang prediksi gempa besar yang akan terjadi beberapa tahun atau ratusan tahun yang akan datang merupakan berita yang sangat tidak sesuai diungkapkan. Persoalannya adalah bagaimana menyikapi wartawan pencari berita sensasional yang menggunakan momen momen besar paska bencana.
Tugas team BMKG ke lokasi bencana 1. Memantau gempa susulan memakai seismograph portable dekat dengan sumber gempa sehingga gempa kecil dapat terpantau dengan baik. 2. Hasil pantauan dapat dilihat langsung oleh masarakat bagaimana perkembangannya setiap hari. 3. Menjelaskan pada masarakat di lokasi pemantauan tentang hasil pantauan yang pada dasarnya adalah penurunan intensitas gempa, baik jumlah maupun skalanya.
Prediksi gempa bumi Prediksi gempa bumi masih dalam taraf penelitian. Parameter prediksi adalah lokasi, besarnya dan waktunya. Perkiraan lokasi dan besarnya gempa dapat saja dilakukan, namun tantangan yang paling sulit adalah menjawab kapan gempa tersebut terjadi. Berdasarkan sejarah gempa maka bisa dihitung probabilitasnya; makin kecil gempa maka makin besar probabilitasnya terjadi dilokasi yang memang potensi (seperti di daerah pertemuan lempeng tektonik). Sebaliknya makin besar gempanya maka makin kecil probabilitasnya. Berdasarkan monitoring tanda-tanda pendahuluan (precursor) gempa bumi besar, maka secara fisika bisa kita ungkapkan bahwa apabila materi mengalami stress maka beberapa sifat materi tersebut mengalami perubahan yang dapat di monitor, seperti kepadatan, kandungan air, kandungan electron, sifat kemanignitan, sifat radio aktif dsb. Di daerah pertemuan lempeng tektonik terjadi akumulasi stress akibat tekanan pergerakan lempeng tektonik. Maka bisa dilakukan monitoring perubahan gravitas, electron, kemagnitan, tinggi air tanah, radon (radio aktif), seismic dsb. Sampai saat ini yang dapat dibuktikan adalah setelah gempa besar maka hasil monitoring sebelum terjadi gempa dikaji lagi. Hasilnya memang ada beberapa tanda menunjukkan gejala anomaly tertentu. Namun belum dapat disimpulkan bahwa tanda tersebut menandakan gempa akan terjadi, karena tanda tersebut sering juga muncul tanda tanpa disertai adanya gempa besar. Hal ini membuktikan bahwa prediksi gempa belum konsisten secara ilmiah dan belum dapat dikatakan sebagai teknologi yang dapat dipakai. Cina mengoperasikan system prediksi gempa dengan memakai bermacam sensor seperti GPS (Global, Posisioning System), Gravity, magnit, radon, termasuk gejala tingkah laku binatang. Hasilnya memang beberapa kali sukses, namun lebih sering gagal memprediksi gempa besar.
9/4/2009 5:15:03 AM GMT >Akbar
|
PRAKIRAAN TINGGI GELOMBANG TANGGAL 20-26 NOVEMBER 2009
PERINGATAN DINI, Tinggi Gelombang Dapat Terjadi 4,0 M S/D 5,0 M(Meter) Di : Laut Cina Selatan, Teluk Siam, Samudera Hindia Barat Mentawai, Samudera Pasifik Utara Biak Dan Laut Philipina
[20/11/2009] » Selengkapnya...
PERINGATAN DINI CUACA TANGGAL 20-23 NOVEMBER 2009
Masih adanya aktifitas daerah tekanan rendah di perairan sebelah Utara Maluku serta di Samudera Hindia sebelah Barat Lampung berpotensi membentuk daerah pumpunan awan yang memanjang dari Sumatera bagi
[19/11/2009] » Selengkapnya...
PETA KETINGGIAN HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM TANGGAL 17 NOVEMBER 2009 (Awal Bulan Dzulhijjah 1430 H)
Salah satu metode penentuan awal bulan dalam Kalender Hijriah (Islam) adalah dengan menghitung data Bulan sabit/Hilal saat Matahari terbenam pada hari terjadinya konjungsi/ijtimak. Apabila pada hari
[17/11/2009] » Selengkapnya...
PRAKIRAAN TINGGI GELOMBANG TANGGAL 18-20 NOVEMBER 2009
GELOMBANG DAPAT TERJADI 2,0 M S/D 3,0 M DI : LAUT SULU, LAUT NATUNA, PERAIRAN SAMBAS, PERAIRAN KALIMANTAN UTARA, PERAIRAN BARAT KEPULAUAN MENTAWAI HINGGA BARAT
[17/11/2009] » Selengkapnya...
KUNJUNGAN KERJA MENKO KESRA KE BMKG
Kunjungan kerja Menko Kesra ke BMKG, Selasa(3/11).
[4/11/2009] » Selengkapnya...
SEMINAR SCIENTIFIC JURNAL CLUB
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika kembali menyajikan seminar bulanan Scientific jurnal club Jumat pekan lalu(30/10).
[4/11/2009] » Selengkapnya...
PERINGATAN DINI CUACA TANGGAL 03 - 05 NOVEMBER 2009
Adanya aktifitas daerah tekanan rendah di Samudra Hindia sebelah Barat Sumatera mempengaruhi kondisi atmosfer di sebagian wilayah Indonesia sebelah Utara khatulistiwa bagian Barat. Suhu muka laut cuku
[2/11/2009] » Selengkapnya...
MAHASISWA UIN KUNJUNGI GEDUNG OPERASIONAL BMKG
Limapuluh Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Geografi UIN (Universitas Islam Negeri) dan lima Dosen berkunjung ke Gedung Operasional BMKG untuk mempelajari mekanisme kerja dan sistem opersional
[2/11/2009] » Selengkapnya...
50 SISWA GABUNGAN BEBERAPA SD BERKUNJUNG KE BMKG
50 Siswa dari tiga SD yang berlokasi di Daerah Aliran Sungai Ciliwung Jakarta Timur berkunjung ke BMKG dalam rangka mengetahui cara pengamatan cuaca, khususnya informasi curah hujan yang mengakibatkan
[30/10/2009] » Selengkapnya...
ISU LOKAL DIADOPSI DALAM LAPORAN KELIMA IPCC
Nusa Dua, Bali (29/10), Beberapa isu lokal yang diperjuangkan Delegasi Indonesia dalam Sidang ke-31 Panel Internasional Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) disetujui masuk dalam agenda pe
[30/10/2009] » Selengkapnya...
|
|
Informasi lainnya... |
|
PRAKIRAAN CUACA NASIONAL
Tanggal 21 November 2009 pukul 07.00 WIB
Medan
Cuaca : Hujan Ringan
Suhu : 24 - 32 °C |
Samarinda
Cuaca : Berawan
Suhu : 24 - 33 °C |
Makasar
Cuaca : Berawan
Suhu : 23 - 33 °C |
Jayapura
Cuaca : Hujan Ringan
Suhu : 23 - 33 °C |
Denpasar
Cuaca : Hujan Ringan
Suhu : 24 - 33 °C |
Jakarta
Cuaca : Hujan Sedang
Suhu : 24 - 32 °C |
|
|
» Selengkapnya...
|
|
| |
PRAKIRAAN CUACA JAKARTA
Tanggal 21-11-2009
| Jakarta Pusat |
| Pagi : |
Berawan |
| Siang : |
Hujan Ringan |
| Malam : |
Berawan |
| |
|
| Jakarta Utara |
| Pagi : |
Hujan Ringan |
| Siang : |
Hujan Ringan |
| Malam : |
Berawan |
| |
|
| Jakarta Selatan |
| Pagi : |
Hujan Ringan |
| Siang : |
Hujan Sedang |
| Malam : |
Hujan Ringan |
| |
|
| Jakarta Timur |
| Pagi : |
Hujan Ringan |
| Siang : |
Hujan Sedang |
| Malam : |
Hujan Ringan |
| |
|
| Jakarta Barat |
| Pagi : |
Hujan Sedang |
| Siang : |
Hujan Sedang |
| Malam : |
Berawan |
| |
|
|
| |
GEMPA TERKINI
| Tanggal | 21-Nov-09 |
| Waktu | 11:29:04 WIB |
| Lokasi | 10.81 LS - 118.91 BT |
| Kekuatan | 5.0 SR |
| Kedalaman | 23 Km |
| Lokasi | 197 km BaratDaya WAINGAPU-NTT |
|
| |
GEMPA DIRASAKAN
| Tanggal | 20/11/2009-06:07:31 WIB |
| Kekuatan | 5.5 SR |
| Kedalaman | 10 Km |
| Lokasi | 0.81 LS 134.59 BT |
Keterangan : Pusat gempa berada di laut 57 km Timur Laut Manokwari |
Dirasakan (MMI) : II - III Manokwari, |
|
| |
|